PANDEGLANG — Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1 yang hilang kontak saat hendak meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda.
Dalam operasi pencarian, tim SAR mengoptimalkan penggunaan drone thermal untuk menyisir wilayah yang sulit dijangkau. Sementara pencarian melalui udara menggunakan helikopter belum dapat dilakukan secara maksimal karena kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau dinilai belum mendukung.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan metode pencarian. Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat mengganggu jarak pandang serta membahayakan penerbangan.
Sebelumnya, helikopter telah dicoba digunakan untuk melakukan pencarian dari udara. Namun, hasil penyisiran belum menemukan tanda-tanda keberadaan rombongan yang hilang.
Karena kondisi tersebut, tim SAR mengandalkan armada laut serta perangkat drone thermal untuk memperluas pencarian di sejumlah sektor.
Operasi pencarian melibatkan ratusan personel gabungan dan belasan kapal. Tim melakukan penyisiran berdasarkan evaluasi rute perjalanan Arupadhatu 1 serta data kondisi cuaca dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto LKBN ANTARA Biro Banten; Ari Basuki dari Merdeka; Yudhis dari iNews; Daus dari Anadolu; serta Donal, pewarta foto lepas.
Mereka berangkat menggunakan speedboat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan tersebut berjumlah delapan orang, terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal.
Komunikasi dengan rombongan sempat tercatat pada pukul 14.42 WIB. Setelah itu, komunikasi terputus. Informasi lain menyebut rombongan sempat berada di sekitar Gunung Anak Krakatau pada sore hari.
Hingga memasuki hari keempat pencarian, keberadaan delapan orang tersebut belum diketahui. Tim SAR sebelumnya menemukan sebuah jaket pelampung dan pelampung botol di sekitar wilayah Anyer, namun belum dapat memastikan benda tersebut berkaitan dengan rombongan Arupadhatu 1.
Pemilik Arupadhatu 1 juga menyatakan jaket pelampung yang ditemukan bukan bagian dari perlengkapan kapal tersebut.
Tim SAR memastikan operasi pencarian terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca, kondisi laut, aktivitas vulkanik, serta keselamatan personel di lapangan.
Pencarian akan terus diperluas dengan mengerahkan unsur SAR gabungan melalui jalur laut dan pemantauan udara menggunakan perangkat yang memungkinkan, termasuk drone thermal.
Hingga saat ini, keluarga dan rekan-rekan para jurnalis masih menunggu kabar mengenai keberadaan seluruh penumpang Arupadhatu 1 dan berharap mereka dapat ditemukan dalam kondisi selamat.







