Batammoranews.com, Selasa 28 April 2026
Bekasi – Suasana duka menyelimuti linimasa media sosial usai terjadi insiden kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo dengan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin, 27 April 2026 malam.
Insiden yang dilaporkan terjadi pada pukul 20.52 WIB itu menimbulkan kecemasan bagi sebagian kalangan pengguna transportasi KRL, lantaran terjadi pada jam pulang kerja.
“Jam-jam orang pulang kerja, Ya Allah,” demikian tertulis dalam unggahan Instagram @didi_w88, pada Selasa, 28 April 2026.
Terlebih, para pejuang rush hour atau jam sibuk mencemaskan para korban yang tak menyangka insiden kecelakaan itu terjadi pada KRL yang ditumpanginya.
“Lutut aku lemes banget, pejuang KRL rush hour pasti tahu banget bagaimana kondisi di jam-jam tersebut,” tambahnya.
Lantas, bagaimana proses evakuasi para korban dalam insiden kecelakaan antara KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur tersebut? Berikut ulasannya.
Para Korban di Gerbong Perempuan
Berdasarkan laporan terkini dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), pada Selasa, 28 April 2026 pukul 12.00 WIB, total korban tewas dalam insiden ini berjumlah 14 orang, dan 84 orang terluka.
Kecelakaan terjadi saat KRL yang ditabrak sedang berhenti karena ada KRL lain yang tertemper taksi Green SM di perlintasan di Stasiun Bekasi Timur.
Tabrakan keras mengakibatkan rangkaian khusus atau kerap disebut ‘gerbong perempuan’ yang berada di belakang KRL itu robek hingga tembus oleh bagian kepala KA Argo Bromo.
Terkait evakuasi korban, Kepala Basarnas, Mayjen M Syafii menyatakan prosesnya pencarian dan pertolongan korban kecelakaan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur itu telah selesai.
Syafii menyebut, seluruh korban yang dievakuasi berjenis kelamin perempuan.
“100 persen yang kita evakuasi (korban) perempuan,” ungkapnya.
“Proses evakuasi sudah selesai. Seluruh tim SAR kita nyatakan, kita kembalikan ke home base masing-masing,” tambah Syafii.
Berkaca dari hal itu, sebagian publik hingga kini masih mempertanyakan ihwal penyebab pasti insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur tersebut.
KNKT: Investigator Sudah di Lapangan
Secara terpisah, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono mengungkapkan pihaknya tengah melakukan penyelidikan terkait insiden tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur tersebut.
Tjahjono menyebut, setidaknya 3 orang investigator sudah turun sejak Senin, 27 April 2026 malam.
“Sejak tadi malam 3 orang investigator kami sudah di lapangan,” ujar Tjahjono dalam keterangannya, pada Selasa, 28 April 2026.
Tjahjono menuturkan, pihaknya telah mengumpulkan data awal dan menelusuri penyebab insiden dari lokasi kejadian.
Meski begitu, KNKT belum membuka hasil sementara. Proses investigasi masih berjalan.
“Jika nanti ada informasi yang dapat disampaikan, akan segera kami umumkan,” jelas Tjahjono.
Insiden Taksi hingga Sinyal Error
Dalam kesempatan berbeda, Dirut PT KAI, Bobby Rasyidin menuturkan kecelakaan itu diawali adanya temperan antara KRL Commuter Line lain dengan 1 unit taksi Green SM.
“Perlu disampaikan juga, kejadian ini terjadi pada jam 9 kurang, yang diawali dengan adanya temperan taksi Green SM itu di JPL 85,” kata Bobby di lokasi kejadian, Bekasi Timur, pada Senin, 27 April 2026.
Di sisi lain, Bobby juga mengungkapkan adanya dugaan sinyal pada sistem perkeretaapian di area stasiun, mengalami error atau tidak berfungsi.
“(Penyebab insiden) ini yang kami curigai itu sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini terganggu,” bebernya.
Terkait kronologi hingga penyebab pasti atas insiden tersebut, Bobby memastikan pihaknya menyerahkan kepada KNKT.
“Sementara itu kronologinya tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan,” tandasnya.***
(JJ)







