Batammoranews.com, Selasa 6 Januari 2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Batam – Polemik terkait dugaan pelanggaran dalam proyek pengembangan kawasan pulau di sekitar Belakang Padang, Batam, yang saat ini terhenti sementara, menjadi sorotan sejumlah media online pada 5 Januari 2026. Proyek tersebut dikaitkan dengan dugaan perusakan mangrove serta dampak reklamasi di beberapa pulau sekitar, yang menurut informasi melibatkan dua pengembang, yakni PT Tri Tunas Sinar Benua dan PT Dewi Citra Kencana.

Namun demikian, sebagian masyarakat nelayan yang bermukim di pulau-pulau sekitar menyampaikan pandangan berbeda. Mereka menilai bahwa setiap proyek investasi seharusnya dilihat secara lebih menyeluruh dan proporsional, tidak semata-mata dari sisi dugaan pelanggaran, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya.

Menurut mereka, dalam setiap kegiatan investasi, terdapat dinamika teknis dan administratif yang kerap menjadi kendala di lapangan. Di sisi lain, investor juga memiliki batas waktu dan perencanaan yang menuntut dimulainya kegiatan sesuai jadwal. Kondisi tersebut, menurut warga, perlu dipahami secara berimbang.

Masyarakat nelayan juga menilai bahwa penghentian sementara proyek tidak hanya berdampak pada proses pembangunan, tetapi turut berpengaruh terhadap kehidupan ratusan warga yang sebelumnya menggantungkan penghasilan tambahan dari aktivitas proyek tersebut.

Nelayan Akui Terbantu Secara Ekonomi

Berdasarkan data yang dihimpun dari warga sekitar, sekitar 60 pekerja yang terlibat dalam proyek tersebut merupakan nelayan setempat. Salah seorang nelayan, Malik (45), warga Pulau Mecan, menyampaikan bahwa keterlibatannya dalam proyek memberikan tambahan penghasilan di luar profesi utama sebagai nelayan.

“Kami tetap nelayan, tapi penghasilan dari melaut tidak menentu. Dengan adanya pekerjaan proyek, waktu kosong bisa dimanfaatkan dan ada tambahan penghasilan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa selama proyek berjalan, dirinya dapat memperoleh tambahan penghasilan hingga sekitar Rp3 juta per bulan, terutama saat musim ikan sedang tidak baik.

Hal senada disampaikan Karim (37), nelayan asal Pulau Mecan, yang menyebut bahwa waktu luang yang sebelumnya tidak produktif kini dapat dimanfaatkan.

“Hampir satu tahun, pagi saya kerja di proyek, malam saya melaut. Dari situ saya bisa beli boat 15 PK,” ungkapnya.

Isu Lingkungan Dibantah Nelayan Lokal

Terkait pemberitaan yang menyoroti dugaan perusakan laut dan Ekosistem Mangrove akibat reklamasi yang dinilai berdampak negatif, sejumlah nelayan menyampaikan bantahan berdasarkan pengalaman dan apa yang mereka sehari-hari rasakan dampak positif di lapangan.

Salah seorang nelayan dari Pulau Kapal, Jono (63), menegaskan bahwa sebagai nelayan, mereka sangat bergantung pada kelestarian laut.

“Kami ini nelayan, hidup dari laut. Tidak mungkin kami membiarkan laut dirusak,” tegasnya.

Pandangan Nelayan Pulau Layang dan Pulau Kapal

Masyarakat nelayan yang bermukim di sekitar Pulau Layang dan Pulau Kapal juga menyampaikan pandangan terkait pengembangan kawasan Pulau Nirup. Secara umum, mereka menilai kehadiran investor membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat pesisir.

Perwakilan nelayan menyebut bahwa pengembangan kawasan tersebut membuka peluang kerja baru, terutama bagi anak-anak nelayan yang selama ini memiliki keterbatasan akses lapangan pekerjaan.

“Kami bersyukur ada investor yang mau membangun daerah kami. Anak-anak kami tidak perlu lagi merantau jauh untuk mencari pekerjaan,” ujar perwakilan masyarakat nelayan setempat.

Sebelum adanya pengembangan, ekonomi keluarga nelayan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Saat cuaca buruk dan tidak memungkinkan untuk melaut, penghasilan keluarga kerap terhenti.

“Dengan adanya pekerjaan alternatif, kami tetap bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” lanjutnya.

Pengamatan Warga Terkait Lingkungan

Terkait isu lingkungan, masyarakat nelayan menyatakan bahwa berdasarkan pengamatan mereka, upaya menjaga kawasan pesisir dan mangrove tetap dilakukan oleh pengembang.

“Mangrove masih terjaga dan dirawat. Di beberapa titik juga dipasang penahan ombak untuk mencegah abrasi,” kata perwakilan warga.

Warga menilai pemasangan struktur penahan ombak justru membuat kondisi pesisir lebih tertata dibandingkan sebelumnya.

Selain itu, masyarakat mengaku dilibatkan dalam kegiatan proyek serta menerima bantuan sosial pada waktu-waktu tertentu.

“Kami diberdayakan untuk bekerja dan juga menerima bantuan sosial pada momen tertentu,” tambahnya.

Soal Hasil Tangkapan Ikan

Menanggapi isu penurunan hasil tangkapan ikan akibat aktivitas pengembangan, masyarakat nelayan menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan pengalaman mereka.

Menurut warga, hasil tangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh musim dan faktor cuaca.

“Kalau cuaca buruk, kami memang tidak melaut. Itu sudah biasa dan bukan semata karena proyek,” jelas mereka.

Harapan Masyarakat

Masyarakat nelayan berharap agar aktivitas pembangunan dapat kembali berjalan, dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

“Kami berharap proyek bisa dilanjutkan agar kami bisa bekerja kembali dan roda ekonomi masyarakat pesisir tetap bergerak,” tutup perwakilan masyarakat nelayan.

 

____AMB____

Redaksi Batammoranews.com