Batammoranews.com, Kamis 18 Desember 2025

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Batam — Tempat hiburan malam (THM) VG kembali menjadi sorotan tajam publik. Hampir sepekan berlalu sejak insiden pemukulan brutal terhadap seorang pengunjung, namun hingga kini belum satu pun pelaku ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: apakah proses hukum benar-benar berjalan, atau justru sengaja diperlambat?

Peristiwa kekerasan yang terjadi di dalam area THM tersebut dinilai bukan sekadar keributan biasa. Korban dilaporkan mengalami kekerasan fisik yang cukup serius, yang diduga dilakukan oleh oknum yang memiliki keterkaitan dengan pengelola atau sistem pengamanan internal lokasi hiburan tersebut. Padahal, sebagai tempat usaha berizin dan ruang publik, keselamatan pengunjung semestinya menjadi tanggung jawab utama pengelola.

Namun fakta di lapangan justru menimbulkan kejanggalan. Hingga Kamis, 18 Desember 2025, publik belum memperoleh kejelasan dari aparat penegak hukum terkait perkembangan penanganan kasus ini. Sejumlah pertanyaan mendasar pun mengemuka:

Lambannya proses hukum ini memicu spekulasi dan dugaan adanya intervensi dari pihak tertentu. Di kalangan masyarakat, bahkan beredar dugaan bahwa terdapat kekuatan atau kepentingan tertentu yang berupaya melindungi pihak-pihak terkait, termasuk dugaan keterkaitan dengan kelompok atau pihak yang disebut-sebut memiliki pengaruh, salah satunya Pasific. Meski demikian, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan secara hukum dan menjadi tanggung jawab aparat untuk menjelaskannya secara terbuka kepada publik.

Jika dugaan intervensi tersebut benar, maka persoalan ini tidak lagi berdiri sebagai kasus penganiayaan semata, melainkan mencerminkan buruknya wajah penegakan hukum di Kota Batam, khususnya dalam pengawasan dan penindakan terhadap dunia hiburan malam yang kerap dianggap kebal hukum.

Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran serius. Pembiaran terhadap kasus kekerasan berpotensi membuka ruang terulangnya peristiwa serupa. Keselamatan pengunjung dipertaruhkan, sementara aktivitas operasional tempat hiburan tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Masyarakat pun mendesak aparat penegak hukum untuk bersikap tegas, transparan, dan profesional tanpa pandang bulu. Jika kasus ini terus dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan, publik menilai wajar apabila muncul anggapan bahwa hukum di Batam “tumpul ke atas dan tajam ke bawah”.

Tempat hiburan malam seharusnya menjadi ruang rekreasi yang aman, bukan arena kekerasan. Apabila VG terbukti lalai dan gagal menjamin keamanan pengunjung, maka izin operasionalnya patut dievaluasi secara menyeluruh oleh instansi berwenang.

Kini, bola panas sepenuhnya berada di tangan aparat penegak hukum. Publik menunggu langkah nyata, karena kepercayaan masyarakat terhadap supremasi hukum di Batam sedang benar-benar diuji.

____AMB____

Redaksi Batammoranews.com