Batammoranews.com, Senin, 29 Desember 2025
Batam – Dahulu, bekerja identik dengan satu tempat bernama kantor. Meja kerja, kursi, absen pagi, dan jam pulang yang seragam menjadi simbol produktivitas. Namun dunia berubah dengan kecepatan yang jauh melampaui kebiasaan birokrasi. Teknologi berkembang pesat, memaksa cara kerja lama untuk beradaptasi. Dari sinilah lahir konsep yang kini semakin akrab di telinga: Work From Anywhere (WFA).
WFA bukan sekadar bekerja dari rumah. Ia adalah paradigma baru bekerja dari mana saja, selama pekerjaan tetap tuntas, terukur, dan memberi dampak nyata.
WFA di Perusahaan Global: Kehadiran Fisik Bukan Syarat, Melainkan Pilihan
Perusahaan kelas dunia telah lama meninggalkan anggapan bahwa kehadiran fisik di kantor identik dengan bekerja. Salah satu contoh yang kerap menjadi rujukan adalah Google.
Di perusahaan ini, banyak peran tidak mewajibkan kehadiran fisik harian. Kinerja diukur berdasarkan output, inovasi, dan kontribusi terhadap tim. Kolaborasi lintas negara dan zona waktu dilakukan secara digital. Menariknya, ketidakwajiban hadir bukan berarti kantor ditinggalkan. Justru sebaliknya, Google memberikan insentif tambahan bagi karyawan yang secara sukarela datang ke kantor, seperti tunjangan kehadiran, fasilitas makan dan transportasi, serta akses kolaborasi langsung yang dinilai mampu mempercepat inovasi.
Pesan yang disampaikan sangat tegas dan modern: datang ke kantor bukan kewajiban, tetapi pilihan yang dihargai.
Pendekatan serupa juga diterapkan oleh perusahaan global lainnya. Microsoft mengadopsi sistem kerja hybrid yang fleksibel, di mana kehadiran fisik memberi nilai tambah dalam kolaborasi strategis dan proyek prioritas. Salesforce menyebut kantor sebagai collaboration hub, dengan kehadiran yang dihargai melalui jejaring eksklusif dan forum ide. Sementara Amazon mulai memberikan manfaat transportasi dan kompensasi tambahan bagi unit kerja yang membutuhkan kehadiran fisik intensif.
Benang merahnya jelas: kehadiran tidak dipaksa, tetapi diberi insentif. Fokus utama tetap pada hasil, bukan absensi.
WFA Versi Pemerintah: Strategi, Bukan Libur
Pada akhir Desember 2025, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan WFA pada 29–31 Desember. Kebijakan ini tentu tidak meniru mentah-mentah praktik perusahaan global, melainkan disesuaikan dengan konteks nasional dan tanggung jawab pelayanan publik.
Hakikat WFA pemerintah bukanlah libur terselubung, melainkan strategi. Tujuannya antara lain mengurai lonjakan mobilitas akhir tahun, menekan kepadatan arus mudik dan risiko kecelakaan, serta menjaga agar layanan publik tetap berjalan. Setiap instansi diwajibkan mengatur giliran kerja dan memastikan layanan esensial tetap aktif.
Di sisi lain, WFA menjadi latihan awal birokrasi untuk bekerja secara fleksibel berbasis teknologi dan kepercayaan. Negara tetap bekerja, meski tidak semua pegawai hadir secara fisik di kantor.
Tantangan Utama: Budaya Kerja yang Masih Berbasis Proses
Pertanyaan besarnya kemudian muncul: apakah WFA bisa berjalan optimal di pemerintahan Indonesia?
Jawabannya jujur harus diakui: bisa, tetapi belum sepenuhnya siap. Bukan karena kekurangan teknologi atau lemahnya sumber daya manusia, melainkan karena budaya kerja birokrasi yang masih sangat berorientasi pada proses, bukan output.
Di banyak instansi, bekerja masih dimaknai sebagai hadir tepat waktu, duduk di kantor, mengikuti alur administrasi, dan menyelesaikan tahapan demi tahapan. Padahal dalam paradigma WFA, kehadiran fisik bukan indikator utama. Proses bukan tujuan akhir. Output dan dampaklah ukuran kinerja.
Selama indikator kinerja masih berbasis jam kerja, absensi, banyaknya rapat, dan disposisi, maka WFA akan terus dicurigai sebagai “libur terselubung”. Ini bukan kesalahan aparatur sipil negara secara individu, melainkan warisan sistem kerja lama.
Kepercayaan dan Kepemimpinan Menjadi Kunci
WFA menuntut sesuatu yang paling mahal dalam birokrasi: kepercayaan. Kepercayaan bahwa pegawai tetap bekerja meski tanpa pengawasan langsung, target dapat tercapai tanpa tatap muka, dan kinerja bisa dinilai tanpa absen manual.
Di sinilah peran pimpinan menjadi sangat menentukan. Tanpa kepemimpinan yang mampu menetapkan target jelas, mengevaluasi berbasis hasil, serta berani menilai kinerja secara objektif, WFA hanya akan menjadi kebijakan administratif, bukan transformasi.
WFA Pemerintah Hari Ini: Tahap Transisi
WFA pada akhir Desember 2025 sejatinya merupakan uji kelenturan birokrasi, latihan kerja berbasis kepercayaan, sekaligus simulasi perubahan budaya kerja. Ia belum dimaksudkan sebagai penerapan penuh seperti di perusahaan global, melainkan sebagai jeda refleksi nasional: apakah birokrasi siap meninggalkan budaya “yang penting hadir” menuju “yang penting hasil”.
Agar WFA benar-benar bermakna, indikator kinerja harus berbasis output dan dampak, target kerja harus jelas dan terukur, sistem digital perlu mendukung pemantauan hasil, serta pimpinan harus menilai kinerja, bukan sekadar kehadiran.
Penutup: Masa Depan Kerja Telah Tiba
Perusahaan global telah membuktikan bahwa tidak wajib hadir, tetapi hadir dihargai. Tidak dikontrol ketat, tetapi diukur hasilnya. Tiga hari WFA di akhir Desember 2025 mungkin terasa singkat, namun pertanyaan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang: apakah birokrasi Indonesia siap bekerja berdasarkan hasil, bukan sekadar kehadiran?
Pada akhirnya, kerja bukan soal di mana kita duduk, melainkan apa yang kita hasilkan.
____AMB____
Redaksi Batammoranews.com




