Batammoranews.com, Selasa 9 Desember 2025

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Nasional – Bencana besar banjir Sumatra bukanlah sekadar interupsi alamiah dalam serial kajian IPCE tentang arsitektur kesadaran profetik. Ia justru merupakan ayat kawniyyah yang paling gamblang: sebuah teks kosmik yang terbuka untuk dibaca oleh mata batin yang jernih.

Dalam Kosmologi Nusantara, alam adalah cermin ruhani yang paling jujur. Bencana adalah bahasa Tuhan yang turun tanpa suara, peringatan yang hanya dapat ditafsirkan oleh fuad yang telah terlatih membaca tanda-tanda zaman.

Banjir Sumatra bukan “peristiwa alam” biasa. Ia adalah gelombang koreksi kosmologis terhadap pembangunan yang kehilangan mizan (keseimbangan), sebuah respons etis bumi terhadap ketidakadilan struktural.

Firman-Nya menjadi landasan baca yang relevan:
“Dan takutlah kalian terhadap suatu fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja…” (QS. Al-Anfāl: 25).

Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman ekologis: penebangan hutan, eksploitasi tambang, tata ruang yang keliru, tidak hanya kembali kepada pelakunya, tetapi merambat menjadi azab sosial yang menelan mereka yang tak bersalah. Inilah kunci membaca tragedi Sumatra: bencana ekologis sebagai fitnah kolektif yang lahir dari kezaliman struktural.

*Tanah Profetik yang Mengirim Pesan*
Sumatra bukan sekadar pulau. Ia adalah bagian dari tanah profetik Nusantara; poros spiritual kawasan barat Nusantara. Dari Barus, pusat perdagangan dan sufisme abad ke-7, hingga kerajaan-kerajaan maritim yang menguasai Selat Malaka, pulau ini menyimpan memori zaman keemasan peradaban Islam Nusantara.

Legenda asal usul namanya, “Samudra” yang kemudian menjadi “Sumatra”, mengisyaratkan hubungan intrinsik dengan lautan pengetahuan dan spiritualitas. Tanah ini adalah simpul energi moral yang peka terhadap perubahan zaman. Ketika tanah profetik ini berduka, ia tidak menangis dengan air mata biasa. Ia mengirimkan pesan melalui bahasa yang dipahami oleh mereka yang masih memiliki rasa.

Banjir yang menenggelamkan desa, meruntuhkan bukit, dan menelan ratusan, mungkin ribuan, nyawa bukan sekadar kegagalan teknis hidrometeorologi. Ia adalah tanda retaknya relasi kosmologis manusia-alam-Tuhan. Dalam tradisi Nusantara, relasi ini adalah poros peradaban. Ketika poros goyah, alam merespons.

*Bencana sebagai Reaksi Etis Bumi*
Dalam kosmologi profetik, alam bukan objek pasif. Ia adalah “makhluk etis”; ciptaan yang diberi peran menjaga semesta. Air, tanah, angin, dan hutan bukan unsur fisik semata, tetapi penjaga amanah Ilahi.

Ketika manusia merusak mizan melalui pembukaan hutan tanpa tanggung jawab, izin tambang yang diproduksi tanpa etika ekologis, penataan ruang yang melawan geografi alamiah, dan pembangunan yang hanya berbasis “akal proyek”, maka bumi melakukan reaksi moral.

Inilah makna terdalam dari “fitnah tidak menimpa orang zalim saja”. Alam yang terganggu tidak memilih korban. Ia bergerak berdasarkan hukum keseimbangan kosmik, hukum yang bekerja tanpa kompromi, tanpa negosiasi politik.

*Hilangnya Fuad dalam Tata Kelola Ekologi*
Serial sebelumnya menegaskan tiga tesis tentang fuad:
1. Fuad dapat melihat; organ penyaksian batin.
2. Apa yang dilihat fuad pasti benar, karena ia melihat dengan Cahaya Ilahi.
3. Fuad harus diasah melalui dzikir, kejujuran batin, dan kesiapan moral.

Bencana Sumatra menunjukkan bahwa banyak keputusan ekologis lahir dari akal statistik semata, tanpa keterlibatan fuad. Sains digunakan, data dipaparkan, grafik dibuat, tetapi mata batin para pengambil kebijakan gelap oleh kepentingan pragmatis.

Jika fuad berfungsi, ia akan melihat hulu sebelum proyek dimulai, mendengar rintihan sungai sebelum mendengar tekanan politik, mempertimbangkan generasi mendatang sebelum laporan final. Hilangnya fuad melahirkan kebijakan yang tampak rasional di atas kertas, tetapi secara kosmologis batil. Inilah paradoks peradaban modern: semakin canggih teknologinya, semakin tumpul mata batinnya.

Al-Anfal 25: Kunci Membaca Bencana Kolektif
“…وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً…”

Ini adalah peringatan kosmik: ketika suatu bangsa merusak hutannya, ketika elitnya membiarkan eksploitasi, ketika tata ruang dijadikan komoditas, ketika pembangunan dipisahkan dari mizan, maka fitnah ekologis akan turun, menimpa pelaku kezaliman dan yang tak bersalah.

Logika ayat ini menolak narasi “kesalahan individu”. Ia menegaskan bahwa kerusakan ekologis adalah dosa struktural, dan konsekuensinya bersifat kolektif.

Ribuan keluarga yang tak pernah menebang pohon turut tersapu banjir. Anak-anak yang tak pernah menandatangani izin tambang turut tertimbun lumpur. Rakyat yang tak pernah menyentuh birokrasi kehutanan turut kehilangan rumah.

Disinilah urgensi kepemimpinan profetik: pemimpin yang bekerja bukan dengan “akal proyek”, tetapi dengan fuad yang jernih; yang membaca data dengan mata kepala sekaligus membaca tanda dengan mata hati.

*Cermin Kepemimpinan tanpa Mizan*
Banjir Sumatra bukan sekadar hasil curah hujan ekstrem atau siklon tropis. Ia adalah refleksi kegagalan kolektif dalam menata relasi manusia-alam.

Bencana ini memperlihatkan dengan jelas: pembangunan yang mengabaikan hulu, tata ruang yang melawan geologi, eksploitasi yang melampaui daya dukung, dan kebijakan ekologis yang hanya bersandar pada hitungan ekonomi jangka pendek.

Dalam Kosmologi Nusantara, pemimpin seperti ini disebut pemimpin “tanpa poros” yang tidak memancarkan keseimbangan. Dan tanpa keseimbangan, alam tidak lagi menjadi sahabat, tetapi berubah menjadi “penegur” yang keras.

*Dari Tragedi ke Kesadaran Profetik*
Bumi Sumatra seolah sedang berkata: “Manusia telah lupa bahwa tanah, sungai, dan hutan adalah amanah, bukan komoditas.”

Koreksi kosmologis ini harus menjadi momentum untuk:
1. Mengembalikan mizan kepada hulu, memulihkan keseimbangan dari sumbernya.
2. Menerapkan tata ruang berbasis ayat kawniyyah, membaca alam sebagai teks suci.
3. Menyucikan gunung sebagai penjaga air, bukan sebagai sumber tambang semata.
4. Mengembalikan sungai pada kehormatan aslinya sebagai arteri kehidupan.
5. Melahirkan pemimpin yang memutuskan dengan fuad, bukan sekadar dengan angka proyeksi.

Bangsa ini harus menyadari: pembangunan tanpa fuad adalah pembangunan menuju kehancuran. Pembangunan yang membutakan mata batin adalah pembangunan yang menyiapkan kubur bagi generasinya sendiri.

Epilog: Duka Dunia yang Kehilangan Rasa

Pada akhirnya, tragedi Sumatra mengungkap lebih dari sekadar kerusakan ekologis. Ia mengungkap ketumpulan rasa kolektif. Kita telah lama kehilangan kemampuan menangis bersama bumi, merasakan rintihan hutan, membaca bahasa sungai.

Firman-Nya telah memperingatkan:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41).

Namun seperti biasa, peringatan keras sekalipun akan membelah manusia: ada yang sadar, ada yang bertambah kufur, menganggapnya sebagai “dongengan orang-orang dahulu”, qaala asaatiirul awwaliin.

Ayat seperti ini diulang sampai 5 kali di 5 Surat (QS: Al-Anfāl: 31; An-Naḥl: 24; Al-Furqān: 5; Al-Qalam: 15; dan Al-Muṭaffifīn: 13).

Pengulangan ini agaknya untuk menegaskan bahwa setiap peradaban yang menolak wahyu selalu menggunakan alasan yang sama: meremehkan kebenaran sebagai mitos. Dalam analisis sufistik yang menggetarkan jiwa: bencana adalah cermin yang memantulkan kondisi batin kolektif. Air yang meluap adalah metafora emosi yang tak tertahankan; rasa sakit bumi yang akhirnya meluap. Tanah yang longsor adalah simbol fondasi moral yang telah lapuk.

Warisan Sunda mengingatkan kita dengan kearifan yang mendalam:
“Leuweung ruksak, cai beak, rakyat balangsak”
(Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara).

Petuah bijak ini bukan sekadar peribahasa, melainkan rumusan kosmologis tentang hubungan tak terputus antara kelestarian alam dan kesejahteraan manusia. Ia mengajarkan bahwa merusak hutan bukan hanya kejahatan ekologis, tetapi pengkhianatan terhadap masa depan anak-cucu. Namun di tengah tragedi, masih ada oase kesadaran yang terpelihara:

Masyarakat Baduy di Banten yang menjaga hutan larangan sebagai bagian dari pranata hidup, dengan keyakinan: “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak” (Gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak). Kampung Naga di Garut yang mempertahankan tata ruang berdasarkan kearifan leluhur, meyakini bahwa setiap jengkal tanah memiliki spirit yang harus dihormati.

Pesantren Benda Kerep di Kota Cirebon yang mengintegrasikan pendidikan dengan pelestarian alam, mengajarkan bahwa memelihara sumber air adalah bagian dari ibadah. Merekalah bukti bahwa model hidup selaras dengan alam bukan nostalgia, tetapi keniscayaan profetik. Mereka adalah penjaga mizan dalam dunia yang semakin kehilangan keseimbangan.

Inilah tujuan akhir pembangunan profetik: melahirkan generasi yang melihat dengan Mata Ilahi, yang memandang hutan bukan sebagai komoditas, tetapi sebagai amanah; yang menata kota bukan demi investor, tetapi demi keseimbangan kosmik; yang memimpin bukan hanya dengan akal, tetapi dengan fuad yang bercahaya.

Sebab bangsa yang melihat dengan fuad tidak akan pernah merusak hulunya dan bangsa yang menjaga hulunya tidak akan pernah tenggelam di hilirnya. Bumi menunggu kita kembali menjadi khalifah yang bertanggung jawab, bukan eksploitor yang rakus. Alam menanti kita membaca ayat-ayatNYa dengan mata hati, bukan dengan kalkulator proyek.

Dan Tuhan, dalam kemurahan-Nya, masih memberikan kesempatan untuk bertobat, sebelum bencana berikutnya datang sebagai ujian terakhir. Sebab fuad yang paling sempurna bukanlah yang mengklaim bisa mengendalikan alam, melainkan yang mampu mendengar bahasa alam sebagai firman tanpa suara, seperti nenek moyang Sunda yang memahami: ketika hutan menangis, sungai pun mengering; ketika gunung merintih, bumi pun berguncang.

Penulis Adalah:
Aktifis Pemerhati Sosial dan kepemudaan yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat PRIMA DMI 2023-2027 dan Ketua Umum Yayasan Taruna Madani Kota Batam 2025-2031

 

____AMB____

Redaksi Batammoranews.com