Batammoranews.com, Kamis 17 September 2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

BATAM — Bentrokan yang terjadi di kawasan Setokok, Barelang, Batam, pada Senin (14/9), menyita perhatian publik. Konflik yang disebut berkaitan dengan persoalan lahan tersebut memanas hingga terjadi aksi saling serang dan penggunaan sejumlah benda yang diduga sebagai senjata.

Peristiwa tersebut semakin menjadi sorotan karena salah satu kelompok yang terlibat diketahui membawa identitas organisasi yang selama ini dikenal memiliki basis dan identitas Melayu.

Situasi itu pun menimbulkan kekhawatiran munculnya persepsi bahwa bentrokan tersebut merupakan konflik antarkelompok Melayu atau bahkan persoalan antarsuku.

Ketua Lembaga Laskar Melayu Bersatu (LLMB), yang juga dikenal sebagai Panglima Tengah, Dato’ Hasbullah, angkat bicara. Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru menarik persoalan tersebut menjadi persoalan suku maupun menggeneralisasi tindakan sejumlah oknum kepada seluruh organisasi Melayu.

“Kami tentu prihatin dan sangat menyayangkan kejadian yang terjadi. Kami berharap masyarakat bisa melihat persoalan ini secara utuh. Ini jelas berkaitan dengan persoalan lahan, bukan konflik antarsuku, meskipun memang ada identitas organisasi Melayu dalam kejadian tersebut,” ujar Hasbullah.

Menurutnya, penggunaan identitas Melayu dalam sebuah konflik terbuka tentu dapat memunculkan persepsi yang kurang baik di tengah masyarakat. Namun, kata dia, tindakan individu maupun kelompok tertentu tidak semestinya dijadikan ukuran untuk menilai seluruh organisasi dan masyarakat Melayu.

“Kami juga memahami bahwa publik sudah melihat adanya seragam dan salah satu organisasi yang selama ini dikenal berbasis Melayu. Tetapi kami berharap publik tidak menyamaratakan seluruh organisasi Melayu hanya karena tindakan oknum atau kelompok tertentu,” katanya.

Hasbullah menegaskan, nilai-nilai Melayu sejatinya identik dengan sikap santun, mengedepankan musyawarah, menjaga marwah, serta menyelesaikan persoalan secara bijaksana.

“Tidak ada ajaran Melayu yang mengajarkan anarkisme ataupun arogansi. Kalau ada tindakan seperti itu, mari kita lihat sebagai tindakan oknum dan kelompok tertentu, bukan sebagai cerminan Melayu secara keseluruhan,” tegasnya.

Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dapat menahan diri dan tidak memperbesar persoalan. Menurutnya, konflik lahan harus diselesaikan melalui mekanisme hukum dan jalur yang semestinya, bukan melalui kekerasan.

“Marwah Melayu jangan sampai terseret oleh tindakan segelintir orang. Persoalan apa pun harus diselesaikan dengan kepala dingin, karena ketika kekerasan terjadi, yang dirugikan bukan hanya pihak yang berkonflik, tetapi masyarakat secara luas,” tutup Hasbullah.

LLMB sendiri menyatakan akan tetap mengambil sikap untuk menjaga nama baik serta marwah Melayu dengan mengedepankan persatuan, kedamaian, dan penyelesaian persoalan melalui jalur hukum.