Batammoranews.com, Selasa 23 Juni 2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tanjungpinang,Kepulauan Riau – Kekayaan budaya Suku Laut di Kepulauan Riau kembali diangkat ke layar melalui film pendek drama keluarga berjudul Samudra di Atas Laut. Karya ini dijadwalkan tayang di platform indonesiana.tv serta sejumlah festival film internasional.

Film ini menghadirkan kisah hangat tentang seorang anak Orang Laut bernama Samudra yang menjalani perjalanan hidup penuh makna, terkait keluarga, identitas, serta hubungan manusia dengan alam laut yang menjadi ruang hidup utama masyarakat pesisir.

Cerita berpusat pada Samudra, seorang anak Orang Laut yang diam-diam berlayar bersama teman-temannya. Namun perjalanan tersebut berubah ketika mereka terseret arus dan menghadapi situasi tak terduga di tengah laut. Dari peristiwa itu, Samudra mulai memahami pesan leluhur tentang pentingnya “mendengar laut”, serta menyadari bahwa alam bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga bagian dari jati diri yang harus dijaga.

Produser film Syahru Boi mengatakan, film ini lahir dari keinginan untuk mengangkat kehidupan Suku Laut yang selama ini menjadi bagian penting identitas budaya Kepri, namun masih jarang diangkat dalam karya sinema.

“Kami ingin menghadirkan sisi kehidupan Orang Laut yang hangat, dekat, dan manusiawi melalui sudut pandang anak-anak. Film ini bukan hanya tentang laut, tetapi juga tentang keluarga, warisan budaya, dan cara manusia menghargai alam,” ujar Syahru Boi, Selasa (23 Juni 2026).

Melalui film ini, tim produksi berharap Samudra di Atas Laut dapat menjadi jembatan antara budaya lokal Kepri dengan penonton yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.

“Semoga film ini dapat memperkenalkan kekayaan budaya Orang Laut Kepri sekaligus menjadi pengingat bahwa pengetahuan tradisional masih sangat relevan untuk kita dengarkan hari ini,” tambahnya.

Proses produksi dilakukan di wilayah Kepulauan Riau, khususnya Kawal dan Pantai Dugong, Bintan, yang dikenal memiliki kedekatan historis dengan kehidupan masyarakat pesisir dan Orang Laut. Kawasan ini dipilih karena merepresentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat yang sangat bergantung pada laut.

Dalam film ini, karakter Ayah Samudra diperankan oleh Faiz Vishal, sementara Ibu Samudra diperankan oleh Sabina Aksa. Selain melibatkan aktor profesional, produksi juga memberdayakan talenta lokal Bintan untuk memperkuat nuansa autentik cerita.

Sebelum proses syuting, tim produksi telah melakukan riset sejak April 2026 di wilayah pesisir Bintan. Mulai 14 Juni 2026, produser Syahru Boi bersama sutradara Boy Ista dan asisten sutradara Ejak melakukan survei lokasi, casting, serta workshop bersama warga lokal untuk memastikan cerita yang diangkat tetap sesuai realitas kehidupan masyarakat Orang Laut.

“Dengan melibatkan warga lokal, kami ingin dunia yang ditampilkan terasa lebih hidup dan autentik. Anak-anak Bintan menjadi bagian penting dalam membawa cerita ini,” ujar tim produksi.

Asisten produser Nindy menyampaikan, proses syuting dijadwalkan dimulai pada awal Juli 2026. Produksi ini juga mendapat dukungan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan, Arief Sumarsono.

Menurutnya, tantangan terbesar produksi berada pada faktor cuaca yang sulit diprediksi serta upaya menjaga keseimbangan antara unsur budaya, drama, dan hiburan tanpa menghilangkan keaslian kehidupan masyarakat pesisir.

“Produksi di wilayah pesisir tentu harus menyesuaikan kondisi alam dan para pemain anak-anak. Harapannya film ini juga dapat menjadi media promosi budaya Suku Laut di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.A/AMB