Cipinang – Penegasan terhadap komitmen mewujudkan zero Halinar (Handphone, Pungutan Liar, dan Narkoba) kembali disampaikan kepada seluruh jajaran pemasyarakatan. Zero Halinar ditegaskan sebagai harga mati yang harus menjadi komitmen bersama, baik dari aspek perangkat, peralatan maupun perilaku.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam arahannya, pimpinan mengingatkan bahwa berbagai persoalan yang terjadi di sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) harus menjadi pembelajaran bersama. Ketika terjadi permasalahan, langkah penanganan kerap dilakukan melalui penarikan maupun intervensi dari tingkat pusat atau Kantor Wilayah.

Karena itu, jajaran diminta tidak menunggu hingga persoalan terjadi. Deteksi dini terhadap setiap potensi gangguan keamanan dan ketertiban harus dilakukan sejak awal, sehingga berbagai permasalahan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Salah satu upaya yang dinilai penting adalah meningkatkan kegiatan sambang dan pemantauan langsung ke blok hunian. Ia mencontohkan praktik yang dilakukan di Lapas Rajabasa, ketika setelah apel para pejabat secara langsung berkeliling ke blok hunian.

Menurutnya, pola tersebut dapat diterapkan di Lapas Cipinang sebagai bentuk kehadiran jajaran di tengah Warga Binaan (WB).

“Kalau kita datang dan menyambangi mereka, mereka akan berpikir ulang ketika akan melakukan pelanggaran,” ujarnya.

Selain kegiatan sambang, jajaran Kamtib juga diminta lebih aktif melakukan patroli dan pemantauan. Seluruh jajaran harus memiliki rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Tidak boleh ada bidang tertentu yang merasa paling menguasai lapas, karena setiap pegawai memiliki peran dan tanggung jawab dalam mendukung pelaksanaan tugas pemasyarakatan.

“Ini lapas kita bersama. Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan kita, sehingga kita harus mau belajar dan memahami seluruh bidang pekerjaan,” tegasnya.

Pejabat Diminta Pahami Proses dan Peduli terhadap Bawahan

Kepada para pejabat struktural, ia berpesan agar tidak sekadar menerima pekerjaan dalam kondisi “sudah beres”. Setiap pejabat harus memahami proses pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya serta meningkatkan kepedulian terhadap bawahannya.

Menurutnya, berbagai persoalan dapat muncul akibat kurangnya pengetahuan, proses pembelajaran, maupun ikhtiar dalam menjalankan tugas.

Karena itu, setiap celah kecil yang berpotensi menimbulkan gangguan harus segera diperbaiki. Ia mencontohkan pentingnya kejelasan penanggung jawab serta pengelolaan kunci pada gudang senjata maupun gudang obat.

Setiap aspek tersebut harus memiliki mekanisme pengaturan dan penanggung jawab yang jelas sebagai bagian dari upaya deteksi dini dan pencegahan gangguan.

Ketelitian dalam administrasi juga menjadi perhatian. Seluruh jajaran diingatkan agar tidak menganggap remeh kesalahan administratif sekecil apa pun.

“Takdir adalah hasil akhir dari ikhtiar kita. Jangan pernah berpikir akan menjadi apa-apa apabila kita tidak melakukan apa-apa,” pesannya.

Pembinaan Pegawai dan Penguatan SDM

Lebih lanjut disampaikan bahwa pegawai yang terbukti melakukan perilaku menyimpang telah diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, diharapkan tidak ada lagi pegawai yang harus ditarik atau dipindahkan akibat persoalan yang sebenarnya masih dapat dicegah sejak awal.

Ia meyakini setiap pegawai memiliki kesempatan untuk berubah dan berkembang. Karena itu, para pejabat diminta menjalankan fungsi pembinaan secara maksimal.

Jika Warga Binaan dapat dibina dan diarahkan untuk menjadi lebih baik, maka pegawai sebagai bagian dari organisasi juga harus mendapatkan perhatian dan pembinaan yang sama.

Dalam aspek pengembangan sumber daya manusia, jajaran juga diminta memberikan perhatian terhadap pegawai yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana.

Pendidikan dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi pegawai dalam menghadapi tuntutan tugas yang terus berkembang.

“Pikirkan hari ini kita bisa melakukan apa. Jangan terlalu berandai-andai tentang masa depan, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi,” tambahnya.

Kedisiplinan Dimulai dari Kerapian

Menutup arahannya, seluruh jajaran kembali diingatkan untuk menjaga kerapian dalam berpakaian. Seragam dinas tidak hanya menjadi pakaian kerja, tetapi juga merupakan bagian dari cerminan kedisiplinan dan profesionalitas setiap pegawai.

“Yang pakaiannya masih kurang rapi, tolong dirapikan. Ini seragam kita, dan seragam adalah cerminan diri kita,” pungkasnya.